Tidaklah perlu lagi bagi seseorang untuk membuat cara baru dalam agama atau mencari ibadah-ibadah lain yang mana hanya akan mendapatkan kesia-siaan lebih-lebih menjadikannya sebuah kesesatan. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barang siapa yang membuat perkara baru dalam urusan agama yang tidak ada sumbernya maka tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dikarenakan tidak adanya tuntunan tentang mengadakan acara ritual secara islami, maka sebaiknya bila kita mengunjungi tempat-tempat sakral harus senantiasa bertafakur yang dilandaskan pada firman Allah SWT seperti dikutip pada ayat berikut :


الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (QS:Ali Imran ayat 191)
Artinya :
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Chitika

Rabu, 10 Agustus 2011

MBAH MINGGIR BENOWO

Kali ini Tim Wisata ritual mengunjungi salah satu makam yang oleh penduduk setempat dikeramatkan sebagai makam "Mbah Minggir Benowo". Makam ini terletak di Desa Benowo, jaten-Karanganyar. Makam ini mempunyai kisah yang unik hingga dikeramatkan oleh penduduk setempat.
Cerita ini bermula ketika masih zaman penjajahan, hidup seorang kakek tua, Mbah Mino namanya. Karena pekerjaannya setiap hari hanya mencari ikan  , maka dia dipanggil Mbah Mino. 
Suatu hari tepatnya  Rabu Pon, dari pagi Mbah Mino memaancig belum dapat ikan-ikan juga. Hal ini tidak seperti biasanya, dia bingung dan tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak. Mbah Mino melihat sesosok mayat yang terapung. Mayat itu mendekati Mbah Mino, oleh Mbah Mino mayat didorong ke tengah sungai, tapi  tidak lama mayat tadi kembali mendekati Mbah Mino, hal ini terjadi berulang-ulang. Mbah Mino selalu mengembalikan mayat itu ke tengah sungai tapi mayat selalu kembali. Akhirnya Mbah Mino berkata ”Nanti kalau aku sudah mendapat ikan banyak, kamu akan aku makamkan”. Setelah mengatakan itu Mbah Mino langsung mendapat ikan banyak dan Mbah Minopun menepati janjinya yakni memakamkan mayat tersebut. Jika dilihat dari busana yang dipakai si mayat, Mbah Mino dan warga desa menyimpulkan bahwa mayat ini masih keturunan atau kerabat kraton dan merupakan orang yang luhur, sehingga dikeramatkan dan diagung-agungkan menjadi ”danyange Benowo” . Setiap rabu pon makam ini selalu dislameti dan dibersihan. Makam ini kemudian sering menjadi tempat untuk tirakatan dan slametan. Warga yang menginginkan sesuatu selalu datang ke makam ini untuk meminta berkah agar apa yang diinginkan dapat tercapai, begitu juga dengan warga yang telah menikah, setelah ijab dibawa ke makam Mbah Mnggir untuk dimintakan keselamatan, hidup rukun, tidak ada halangan sesuatu apapun. Sesaji yang akan dibawa ke makam Mbah Minggir semua harus serba baru tidak ada yang bekas, seperti tikar yang digunakan harus baru dan ketika membuat sesaji, pembuat tidak boleh mencicipi walaupun untuk sekedar ingin tau sudah enak atau belum, karena warga meyakini Mbah Minggirlah yang akan menjadikan rasa itu  pasti enak 
Demikian tadi sekilas tentang makam Mbah Minggir, karena mayat tersebut tidak dikenal dan mayat itu selalu menepi ”minggir” di desa Benowo, warga menyebutnya ”Mbah Minggir Benowo”, sehingga tradisinyapun dikenal dengan istilah ”Sowan Mbah Minggir Benowo”

Lokasi Makam "Mbah Minggir Benowo"



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar